Puisi romantis
Tentang
bolehkah Aku….
Bolehkah aku memimpikan langit yang sama disaat kau dan aku
terpaut jarak dan waktu?
Bolehkah aku melihat biru yang sama dengan yang kau lihat?
Bolehkah aku menatap gelap yang sama disaat kau melihatnya
banyak cahaya kelap kelip yang indah?
Bolehkah aku mengambil senja yang sama yang kau ambil dikala
sore?
Bolehkah aku menghirup udara yang sama dengan apa yang kau
hirup?
Bolehkah kau biarkan angin sepoi yang sama menyapamu dengan
lembut juga menyapaku?
Tentang
namun….
Namun aku takut langit berubah digiring awan dan jadi
berbeda denganmu
Namun bagaimana bila biru itu berubah menjadi kelabu?
Namun bagaimana bila malam itu bintang - bintang enggan
memberikan cahaya yang sama seperti padamu?
Namun bila senja itu hanya satu, apa ada sisa untukku?
Namun aku tak yakin udara yang ku hirup tak penuh dengan
oksigen seperti yang kau dapatkan disana
Namun ku ragu angin itu tak lembut menyapaku dan malah
membuatku masuk angin
Tentang
andaikan…
Andaikan aku berani bicara ini padamu soal apa yang ingin
aku impikan
Andaikan aku mampu mengendalikan segala perubahan
Andaikan aku dekat dengan para bintang
Andaikan untuk aku satu-satunya
Andaikan kuhanya dapat menghirup oksigen
Andaikan aku yakin angin itu tetap lembut meski ternyata ribut
Tentang
maka….
Maka mungkin saja kau beritahu pada awan agar diam dan kita
menikmati langit yang sama
Maka biru itu akan tetap sama dan tetap utuh sampaiku
selesai menikmatinya
Maka disaat malampun kelipnya mampu membuatku berseri hingga
esok pagi
Maka saat senja datang Ia hanya suguhkan padaku dan akupun
dapat mengantonginya
Maka pun yang mengalir dalam nadiku adalah kejernihan
oksigen yang berdetak mengalir pada jantungku, dan ku tau kau masuk dalam tiap
aliran darahku
Maka aku akan tetap kokoh dan berpikir semua hanya angin
lalu, dan semua tak apa-apa
Tentang
nyatanya…….
Nyatanya aku tak mau bergeming dan tetap bersembunyi dibalik
pengandaian
Nyatanya itu tak mengubah apapun dan datangkan kelabu padaku,
awan berbohong atau kau memang tak pernah sampaikan
Nyatanya disaat gelap datangpun bukan hanya kelip yang
berbeda, bahkan para bintang enggan muncul
Nyatanya aku sedih semalaman hingga lupa esokku harus ambil
senja, dan aku kehilangan Ia
Nyatanya ku tak bebas lagi menghirup, dan hanya dialirkan dari
tabung
Nyatanya topanganku sama sekali tak kuat dan tak dapat
berbohong kalau itu bukan sepoi yang ku inginkan
Tentang
kau dan aku
Dan Perasaanku
Simpulnya aku hanya dapat berbicara dalam hatiku dan
berdebat dengan logikaku
Bahkan bertatap pun sama sekali tak berani, tepatnya aku tak
mampu
Apalagi bertukar sapa?
Aku di tanah kecoklatan dan kau sedang nikmati putihnya
salju
Kau berada dibelahan bumi yang membeku dan aku ditemani
udara hangat yang sesekali turun hujan, bukan badai sepertimu
Kau nikmati senja dengan degradasi cahaya dan putih memikat
sedang aku bergradasi dengan merah muda dan jingga yang membuat sakit hati
Malamku bisa sampai 12 jam dan kau hanya 8 jam
Waktu kita terpaut setengah hari
Jarak kita terpaut setengah lingkar bumi
Lalu soal perasaan kita?
Oh maksudku perasaanku, soal perasaanku
Kau tak pernah bilang soal perasaanmu, mungkin karena akupun
tak pernah mau berterus terang
Lagipula apa kau pernah memperhatikanku saat aku sedang tak
perhatikanmu?
Dulu saat kita menginjak tanah yang sama
Digedung yang sama
Kita tetap tak mampu saling menyapa
Hanya tau sama tau
Atau mungkin hanya aku yang tau
Ku berjalan menjauhi perasaanku
Sayangnya bumi berputar dan mengembalikan perasaanku seperti
semula
Selalu.
Sekarang, sudah setengah abad Aku menanti
Diusiaku yang sama sekali sudah tak muda lagi, umurku saat
pertama kali aku melihat senyumu itu meski bukan padaku ditambah dengan
setengah abad
Sudahlah nafasku mungkin tak lama kembali
Aku dengan 15 cucu, 5 anak dan 1 laki-laki yang kemarin baru
saja pergi meninggalkanku, membuatku mengulang kembali kisah penantian panjang
dan bergelut dengan logika dan perasaan soal takdir cinta.
“Mas, tanggal 15 bulan 5 tahun
2001 kita berada diruangan yang sama, kau duduk mempermainkan gelas dan aku
sedang malas ikut bersenang-senang.
Bila kau masih ingat, diruangan
itu hanya kita yang tak ikut menari. Lalu esoknya kulihat kau naik bis dan aku
sedang dihalte menunggu bis, sayangnya bis yang kau naiki bukan tujuanku. Namun
ternyata kau ada dikampusku keesokan harinya memberikan kusioner yang kau bawa
pada seluruh dewan pengurus dan akulah yang terakhir mengumpulkan karena aku
hanya ingin berada lagi satu ruangan lebih lama bersamamu. Itu membuat
teman-temanku kesal karena tak dapat keluar ruangan. Namun itu kali terakhir
kita bertemu, tak pernah bertukar nama bahkan hanya obrolan singkatpun tidak.
Seminggu kedepan aku baru tau
dari papan putih besar dikampusku, wajah kau terpampang disana. ‘Mahasiswa
peraih beasiswa S2 di Harvard’ itu membuatku sadar bahwa aku tak akan melihatmu
lagi. Namun saat aku wisuda kau datang membawa bucket bunga. Sayangnya bukan
untukku, kau berikan itu pada perempuan disampingku. Hatiku hancur saat itu,
wisuda hari itu hampir saja hari yang paling ingin aku lupakan, dan lucunya ternyata
itu adikmu.
Dipenghujung wisuda aku baru tau,
dan dipenghujung wisuda pula kau memberikan selamat. Bagaimana bisa ini
sahabatku adalah adik dari laki-laki yang ku sukai 3 tahun belakangan ini.
Waktu cepat berlalu, 50 tahun kita mengarungi, langit yang sama, biru yang
sama, senja yang sama, udara yang sama, dan angin yang sama. Sampai kemarin
pada tanggal 15 bulan 5 tahun 2051 kau berada jauh dariku, pergi mengarungi
dimensi lain. Lebih jauh dari sebelumnya, bertualang sendiri lagi. Tanpa aku. Takdirku
percaya lagi, ku kan temui mu di kehidupan berikutnya, menemanimu bertualang
hebat.
4 Juli 2017
Komentar
Posting Komentar