AKU SENANG


                Aku adalah sepotong senja yang jatuh ke bumi, membawa sepucuk keindahan dan harapan dan perihal cinta…..
                “Deee bangun!! Sudah siang” teriak mama dari luar, aku meraba meja dekat tempat tidurku melirik jam dan waaaaah sudah jam 7 pagi. Aku segera bergegas ke kamar mandi, butuh  10 menit aku menyelesaikan segalanya, aku langsung berlari ke depan tanpa berpamitan selagi mengikat tali sepatu mama berteriak bahwa bekal ku ketinggalan aku kembali kerumah segera mengambil bekal dan langsung memanggil ojeg langgananku. Ojeg tercepat yang pernah aku temui.
Jarak dari rumah ke sekolahku lumayan, hanya butuh waktu setengah jam normalnya namun terkadang satu jam karena macet. Tapi dengan ojeg superku hanya membutuhkan 15 menit. Aku sampai disekolah pukul 07.00? aku tau pasti, tidak salah lihat didekat gerbang sekolahku dipajang jam besar yang menjadi patokan para penjaga gerbang.
                “pagi, Rara” sambut Dan saat aku masih diojeg “enggak turun?” aku yang sadarpun langsung turun dari ojeg dan segera membayarnya. Ojeg itupun sudah melesat jauh dari pandangan. ojeg turbo.
                “tumben pagi” sapa Dan lagi
                “eh iya dong, Rara”  aku meyombangkan diri padahal aku masih bingung, tunggu aku ingat-ingat lagi saat aku buru-buru masih ada adikku yang sedang sarapan harusnya sudah berangkat sedari tadi.
                “tapi sepagi-paginya jam 07.00 sih, setengah jam dari jadwal” ledek Dan
                ‘gak papa dong kemajuan” pungkas ku
                “sudahlah, ayo ke kelas” ajak Dan.
Semua orang pagi ini menyapaku dan bertanya seperti Dan.
Ini pertama kalinya aku sampai disekolah tanpa harus menyelinap di gerbang atau tanpa harus membersihkan halaman sekolah terlebih dahulu, dan untuk pertama kalinya aku mengikuti pelajaran matematika  di jam pertama.
                “selamat pagi anak-anak, eh Rara? Masuk pelajaran pagi?” Bu Eka bertanya padaku. Aku hanya tersenyum.
                Akhirnya waktunya istirahat, untung Orang tuaku menyekolahkan ku ke sekolah ini, sudah masuknya pukul 07.30 pelajaran wajibnya hanya sampai 12.00 dan sisanya mengambil pelajaran pilihan sesuai minat sampai pukul 15.00, pukul 15.00 kesana waktunya kegiatan klub. Aku tidak mengmbil kegiatan klub apapun, jadi pukul 15.00 aku sudah pulang ke rumah.
                Saat aku pulang ke rumah aku langsung mengecek jam dikamarku, benar jamnya lebih satu jam. Aku hendak bertanya pada Mama, namun sayangnya Mama masih ditoko. Segera ku ubah jamnya seperti semula, berangkat pagi memang lebih menenangkan tapi berangkat siang lebih menegangkan, dan aku suka sensasinya.
                Lebih baik aku menemui teman-temanku dirumah singgah, aku dan Dan sejak SMP sering main kesana jika ada waktu segang. Namun semenjak SMA aku lebih sering datang sendiri karena Dan semakin sibuk.
                Aku dan Dan sudah berteman dari kami TK rumah kamipun cukup berdekatan, aku di Blok A dan dia di Blok F sampai saat ini aku terus satu sekolah dengannya, namun semejak SMP kelas 2 aku tidak sekelas dengannya, nilainya terus membaik dan dia murid yang cemerlang sehingga dia tiap semester pasti pindah kelas. Sedangkan aku selalu dikelas rata-rata, yang penting aku masih bisa masuk sekolah bagus kurasa sudah cukup.
                Seperti sekarang aku di kelas C dan Dan di kelas A, sudah 2 tahun Ia bertahan dikelas A dan selalu menjadi  juara umum. Dia juga aktif di kegiatan klub, pelajaran pilihannyapun tentu saja yang menguras otak, tapi ada satu pelajaran yang selalu membuat kami masuk dikelas yang sama yaitu pelajaran musik. Pelajaran yang menyenangkan.
                Aku adalah tipe orang yang menyukai kebebasan dan tanpa aturan. Itu hanya dalam konteks perasaan dan pemikiran, bukan perihal perilaku, aku masih anak baik-baik juga teratur dalam segala bidang hanya saja aku tidak suka yang kaku-kaku. Yang kusuka dari Dan dari dulu adalah meski dia salah satu murid tercerdas tapi dia tak kaku dan sungguh supple juga menyenangkan.
                Setiap malam minggu pasti aku dan Dan bermain, kadang aku kerumahnya kadang dia ke rumahku. Selalu saja ada kegiatan yang menyenangkan, keluarga kamipun sungguh dekat. Ibuku dan ibu Dan memiliki usaha bersama.
                Itu semua masa-masa yang sungguh indah, tiba dipertengahan semester kelas 3 Dan mulai tidak main malam minggu, dan ada murid baru disekolahku dia langsung masuk ke kelas A itu tandanya dia lulus tes yang sulit, biasanya murid baru mampu masuk kelas B, dan masuk kelas A membutuhkan perjuangan.
                Aku tak mempersalahkan hal itu, toh aku juga butuh belajar. Namun rasanya hampa jika malam minggu aku hanya bermain music sendiri, biolaku tak terdengar merdu tanpa piano Dan, atau gitar ku tak terdengar indah saat tak ada penyanyi yang mengiringinya.
                Malam ini aku memutuskan untuk lebih cepat terlelap, lagi pula ada hujan yang me-nina bobo-kan ku.
                “Ra, kamu putus sama Dan?” Tanya Hana saat aku baru masuk kelas
                “putus apa nih? Orang kita gak pernah pacaran kok” jawabku heran. Yah meski aku menyimpan rasa pada Dan.
                “hah? Jadi selama ini kalian enggak pacaran? Aku kira” Hana terdengar agak kecewa
                “memangnya ada apa?” tanyaku lagi
                “aku kemarin melihat Dan pergi ke toko buku bareng Fani”
                “ke toko buku? Lalu?” aku jadi penasaran
                “iya, kupikir Dan itu tidak terlalu dekat dengan perempuan kecuali denganmu” Hana meneguk jusnya “kalau kau dan Dan tidak pacaran maka Dan menyukai Fani?” lanjutnya. Kata terakhir Hana membuatku sakit. Dan memang baik ke semua orang mungkin saat itu hanya kebetulan mereka bertemu.
                Semenjak hari itu aku merasa semakin jauh dari Dan, banyak juga gossip tentang Dan dan Fani. Aku tak mempersalahkannya, kamipun sudah jarang bertemu hanya sesekali Dan menelpon. Akupun jadi lebih sering ke rumah singgah agar aku bisa tetap merasakan adanya kehadiran Dan.
                Saat kami sedang bermain bola Dan tiba-tiba datang, semua orang langsung menyambutnya termasuk aku, senang rasanya Dan mampir ke rumah singgah setelah sekian lama, tapi sepertinya Dan membawa seseorang dan itu adalah Fani. Hatiku sakit melihat mereka, bagaimana bisa Dan membawa orang lain ke tempat ini? Tempat yang dipenuhi kenangan aku dan Dan. Mungkin aku terlalu berangan-angan, bisa jadi ini tempat yang dianggap biasa oleh Dan.
                Aku menyapa Fani, lagipula Fani teman yang asyik, kami semua langsung berbaur, aku bisa bersikap seolah-olah biasa saja. Saat matahari hampir tumbang aku pamit pulang, ku kira Dan juga akan pulang ternyata Ia hendak mengantar Fani pulang, aku sedikit kesal dan aku mengajukan diri untuk ikut tapi Dan melarangku dengan alasan Ibuku akan khawatir jika aku pulang telat. Tapi Dan tau persis aku tidak pernah memiliki jam malam, lagi pula hampir setiap malam minggu aku pergi ke rumah singgah dan kadang tak pulang. Kupikir mungkin Dan dan Fani ada urusan yang memang aku tak boleh tau. Aku menyerah.
                Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar
                “Ra, kamu kenapa?” Tanya Mama dari balik pintu kamar
                “Rara capek Ma, mau tidur aja” jawabku
                “ya sudah, malam” langkah kaki Mama terdengar menjauh. Aku menangis.
                Sampai hari kelulusan tiba Aku dan Dan tetap jarang bertemu, Dan sesekali menelponku akupun mengenyampingkan perasaanku. Aku ingin persahabatan kita semakin utuh. Jika itu soal berubah memang pada dasarnya semua orang akan berubah maka hanya tentang menunggu dan menerima. Tapi, Fani dan Dan ternyata memang menjadi lebih dekat daripada yang aku bayangkan, mereka memiliki banyak kesamaan yang membuat mereka lebih cepat akrab. Mereka masuk ke kampus dan fakultas yang sama, urusan perotakan. Sedangkan aku masuk ke jurusan design, seperti biasa membutuhkan kebebasan.
                Semenjak kuliah kami memiliki kehidupan masing-masing, aku masih berharap pada Dan meski kami bertemu jika kami sama-sama sedang pulang, itupun jika beruntung. Tak ada waktu menelpon Dan, aku dan Dan sesekali mengirim surat menyurat singkat. Aku terus menyibukan diriku agar segera lupa padanya, saat aku hendak wisuda Dan menelponku, telpon pertama setelah 3 tahun.
                “hai Ra, sudah lama sekali kita tidak berhubungan. Apa kabar?” –Dan
                “baik, kamu?”
                “ku dengar dari Mama kau akan wisuda dan segera terbang ke milan?” –Dan
                “iya benar, ternyata beritanya cepat tersebar”  aku begitu senang mendapat selamat dari Dan
                “sangat jarang orang bisa lulus 3 tahun, paling cepat pun 3,5 tahun. Bagaimana cara kau belajar?”
                “apa yang tidak bisa dilakukan Rara?”
                “dari dulu kau selalu luar biasa, aku iri padamu”
                “Dan, apa kau hanya akan mengatakan itu?”
                “oh iya ada lagi minggu depan aku akan bertunangan dengan Fani, datang ya”
Suara Dan terdengar begitu bahagia.
                Aku sudah tau perihal pertunangan itu dari Mama kemarin, jadi aku tidak terlalu kaget.
                “Dan, selamat ya. Aku senang sekali. Maaf bukannya tidak ingin ngobrol lama hanya saja aku sedang ada urusan. Sampai nanti” aku langsung menutup pembicaraan dan tidur.
                Aku sakit, sedih, tertusuk, aku mencintai Dan lebih dari apapun, selamat ya Dan. Aku senang.
                 
                 
  
   
                                                                                                    


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Api dimataku

Kiprah Wayang Sukuraga

Gombal