senja terakhir
Matahari
yang mulai tenggelam di ufuk timur, burung-burung yang mulai kembali pada
sarangnya. Semua telah beranjak, semua telah pergi. Begitupun Karin. Galih
hanya terduduk lesu dipojokan pelataran rumah. Menyesal, sesal, sedih, benci, kecewa
hanya rasa-rasa hancur yang Ia rasakan sekarang.
“Aku simpan
di kursi taman sekolah ya” kata Karin di telepon.
“Hah? Kasih
langsung saja” balas Rangga
“Ah tidak,
tolong beri tahu Galih saja” tut…..tuuuut….tuuuuut. teleponpun terputus
Karinpun berjalan pulang, namun
digerbang sekolah Ia ditahan oleh Anggita,
“Kau harus memberikannya
langsung” lalu Anggita memberikan kotak yang
Karin simpan dikursi taman. “Hei, apaan
sih? Tau ah. Aku pulang” Karinpun pergi meski tersendat-sendat oleh penjagaan
Anggita dan Rangga.
“ini tuh bukan drama” Rangga
berteriak “terserah kalau mau kalian kasih atau tidak, aku tak peduli. Aku
pulang” teriak Karin pula. Karinpun menghilang
dipenghujung jalan, menghilang untuk selamanya.
“Hei panggil ambulan cepat” teriak
bapak-bapak
“apa Dia hidup?”
Tak lama ambulan datang, segera
Karin dinaikan keatas ambulan dan dibawa ke rumah sakit terdekat.
Melihat ada kerumunan di ujung
jalan Anggita dan Rangga menghampiri, dan sangat kaget melihat tas Karin ada
didekat simpahan darah. Anggita Reflek mengambil tasnya, Rangga yang langsung
sibuk Tanya sana sini yang akhirnya mendapat sepotong penjelasan singkat yang
sebenarnya tak dapat terlalu dipercaya lansung memberi tahukan pada Anggita.
Anggita menangis dalam diam saat
kembali ke sekolah untuk memberikan kabar yang begitu mengerikan ini pada teman-temannya.
Rangga yang sudah meyusul ke rumah sakit untuk membuktikan segalanya, Rangga
berdoa dalam setiap darah yang mengalir. Rangga tak ingin kehilangan sahabatnya
ini.
“Galih dimana?” Tanya Anggita pada
teman-temannya
“sedang di ruang musik”
Tanpa menjawab Anggita lari
terkatung-katung, antara sadar dan tidak iya langsung masuk ke ruang musik
tanpa permisi. Melihat hal itu Galih bingung dan mengajak Anggita keluar
ruangan musik. Melihat Galih ada didepannya tangis Anggita pecah, Galih yang
semakin bingung melihat tingkah sahabatnya ini mulai kewalahan.
“mengapa kau menangis? Apa ada yang
menyakitimu?” Tanya Galih
“Karin.. Karin…” tangisnyapun
semakin pecah
“iya kenapa dengan Karin?” Galih
yang mulai menebak-nebakpun ikut cemas
“dia dirumah sakit”
Anggita pun
akhirnya sedikit lebih tenang, dan sekarang giliran Galih yang semakin cemas
“Kok bisa?”
“Dia tertabrak” mendengar hal itu
Rangga kaget lalu langsung pamit dari ruang music dan mengajak anggita pergi ke
rumah sakit terdekat daerah situ.
Setiba di rumah sakit mereka
langsung masuk ke ruang ICU dan menemukan Rangga sedang duduk cemas.
“apa yang terjadi? “ Tanya Galih
pada Rangga
“Karin tertabrak di ujung jalan
sekolah” Rangga terlihat sangat sedih.
Galih yang terihat pasrah ikut
duduk disamping Rangga. Anggita sudah mulai sibuk menelpon keluarga Karin
sedikit mulai lega dan dapat menuturkan semua kronologi yang Ia tau kepada
keluarga Karin via telpon. Keluarga Karin akan sampai ke rumah sakit sekitar 6
sampai 7 jam, Karin memang tinggal sendiri dikota ini. Orang tuanya tinggal
dikota lain untuk mengelola perkebunan.
Dokter keluar dari ruang ICU,
nyaris seperti adegan difilm-film atau memang adegan difilm diilhami dari
cerita ini? Semua berdiri dokter pun bertanya “ada yang keluarga korban?”
Semua menjawab “kami sahabatnya”
dokterpun mengangguk dan menjelaskan segalanya. Pada akhir cerita dokter yang
berbelit-belit, dengan bahasa sehalus apapun yang dicoba sang dokter tetap saja
kata ‘meninggal’ tetap lah berarti pergi untuk selamanya. Semua yang mendengar
hal itu menangis, tak sekalipun Rangga dan Galih. Bahkan Anggita langsung jatuh
pingsan.
…………………………………………………………………………………………………………………………………………
“Aku tau kamu sedih, aku tau
rasanya karena akupun begitu. Semua sama merasa kehilangan Karin. Tapi ini udah
dua minggu kamu dikamar” kata Anggita yang menjenguk Rangga di rumahnya. Bukan
hanya Rangga yang seperti ini begitupun Galih, saat Anggita menjenguk Galih
kemarin sore nyaris Galih seperti Rangga. Lunglai.
“semua orang datang dan pergi Ga,
kamu harus rela melepas Karin. Biar Dia juga tenang ninggalin kita” ucap
Anggita.
Rangga tak berbicara, Ia menangis
lagi.
“Ga, udah dong” Anggita mencoba
menenangkan
“Coba kalau saat itu aku gak maksa
dia ngasih, mungkin dia masih menunggu depan gerbang” unek-unek dalam hati
Rangga akhirnya keluar
“kalo gitu, aku juga menyesal
kenapa harus membawa kotak itu dan memberikannya lagi ke Karin?”
“coba kalau waktu itu aku gak suruh
kamu” Rangga akhirnya kembali terdiam membisu.
Anggita yang tak dapat menjawab
apapun hanya terdiam, seminggu yang lalu Ia seperti Rangga, menyalahkan diri
sendiri dan selalu berkata jika, coba, kalau. Namun Ia sadar ini sudah suratan,
bagaimanapun Karin telah pergi Ia tak akan pernah kembali.
Rasa tak enak dikamar semakin
membuat tak nyaman, pada akhirnya Anggita pamit pulang, Rangga hanya mengangguk
saat Anggita pamit.
“AAArgh” teriak Rangga
Rangga semakin frustasi, “Oh tuhan
biarkan aku rela melepas sahabatku” lirih Rangga, dia terkulai lemas.
Keesokannya…..
“kamu berangkat sekolah?” Tanya
mama Galih, galih hanya mengangguk. Sudah saatnya Ia berhenti dari
keterpurukan, Galih rela, demi melihat Karin tersenyum disurga.
Rangga memutuskan untuk pindah
sekolah, terlalu banyak kenangan disana. Dia pindah ke New zeland, menginjak
tanah yang dicita-citakan Karin selama ini.
“Aku akan melanjutkan
mimpi-mimpimu, kau akan selalu ada dihatiku. Tersimpan, mengkristal abadi” ucap Rangga saat dibandara. Rangga tak
memberi tahu teman-temannya soal ini, biarlah. Waktu yang akan menjelaskan
segalanya.
Karin
Saat itu senja terakhir aku melihat
senyummu
Melihat tawamu
Aku tak sadar bahwa itu yang
terakhir
Esok
Jika kau terlahir kembali
Akukan tau
Kau akan lahir disaat senja
Dan
Ku yakini kau kembali
Komentar
Posting Komentar