PART 4 : INDEKOS

Aku bukan anak kos, tapi anak kontrakan. 
            Menurutku  Tempatku ini sangat ideal, tenang, sunyi, independen dan dipinggir sungai. Nyaman. Aku dengan dua sepupuku hidup damai, hingga saat itu kekacauan dan kehilangan yang membuatku dan sepupuku pindah darisana. Padahal di indekos yang pertama ini ada sebuat legenda yang kubuat dengan sepupuku, dibelakang indekos yang hingga kami pindah kami tidak mengetahui seperti apa Ia.  Yaitu  seseorang bernama xxxx yang setiap pagi sepupuku yang dekat rumahnya dari indekos kami memanggilnya untuk berangkat ke sekolah bersama, sebenarnya simple kami hanya tinggal bertanya tapi ya sudahlah sampai hari ini tetap menjadi legenda jam 6  pagi.
            Di indekos pertama ini pula aku merasakan sensasi pulang dengan berjalan kaki, yang aku rindukan itu karena seringnya aku pulang nyaris gelap, tepat dititik jalan itu aku menyaksikan senja yang selalu indah bila tiada hujan disana. Dan ayam kecap dengan karedok yang bergantian menjadi teman makan malam.
            Bila dengan sunyinya itu tidaklah aman maka akhirnya kami pindah dibelakang sekolah, hanya berkisar kurang dari 100 meter, tanpa harus tiap pagi menaiki angkot maka hingga akhirlah aku disana. Aku berhasil menjadi tetua disana, isi indekos sudah saling berganti dan aku masih menetap. Merasa seperti induk semang yang mengatur air dan listrik. Masih di tepi sungai, itu yang aku syukuri. Gemercik air selalu membuat syahdu. Hanya saja penghuni indekos lain sudah saling mengenal dan akrab, karena mereka semua satu kampus tinggalah aku si induk semang mengurung diri disarang mendengar semua perbincangan. Suara gitar dan nyanyian yang akan aku rindukan, perbincangan selewat saat menjemur baju, saling tolong menolong mengangkat baju jika salah satu dari kami tidak pulang cepat, dan mengetuk pintu untuk membukakan pagar dan tentunya meminjam kunci saat aku lupa membawa kunci. Satu hari saat mati lampu saat itu, perbincangan panjang soal cerita yang dibawa masing-masing oleh kita, dan bila boleh aku ingin mati lampu lagi. Dan sayangnya itu tidak pernah terjadi lagi. Hingga malam kepindahanku.
            Kakak ganteng dan rapih yang asyik itu bukan aku saja yang menyukainya melainkan semua teman-temanku yang mampir ke indekosku. Yah, idaman kating lah.
            Hikmah kepindahanku ke belakang sekolah adalah indekos ini menjadi basecamp dan saksi segala kejadian pertemanan dalam lingkarku ataupun lingkar teman satu kosku. Tempat dimana kelakar tawa sering muncul, dan melodi sedih yang tercurah. Saat  menonton film disinilah yang akan selalu ku ingat, tanpa sadar dengan inilah kami menjadi dekat.

            Untuk teman-teman indekosku yang terjadi dua decade, terimakasih untuk memahami tabiat anehku, untuk mau berbagi cerita hebat kalian. Lets catch our dreams ^^

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Api dimataku

Kiprah Wayang Sukuraga

Gombal