Bersyukur dalam perih
Bersyukur
dalam perih
Sore itu
ketikaku menyusuri jalan untuk membeli penganan untuk berbuka puasa, kira-kira
pukul lima sore lewat. Hujan deras turun dan setiap detiknya semakin besar, mau
tak mau semua orang meneduh begitupun aku, dengan menenteng takjilku aku tak
sabar menunggu hujan reda agar segera pulang ke rumah, dan sepertinya semua
raut wajah yang ikut meneduh bepikiran sama denganku termasuk pemuda yang
sedang duduk dilantai ujung toko yang menjadi tempat berlindungku dari hujan.
Pemuda yang
mungkin umurnya 3 atau 5 tahun diatas usiaku, di dekatnya ada karung juga kait
untuk memulung, bajunya kotor. Mungkin bekas seharian mencari sampah, aku
meliriknya sesekali antara perasaan takut dan iba dilirikan sekian kali mata
kami berpapasan. Aku yang salah tingkah langsung memalingkan mataku. Namun
meski sebentar, mata itu memancarkan sebuah arti, kesedihan, penderitaan,
kelapangan, dan harapan. Seolah aku mengerti nanar yang ada dimatanya segera
hatiku tertusuk. Kumelirik takjil ditanganku lalu melirik kesekitar semua orang
sibuk dengan gadget mahal dan takjil
yang dibawa, namun pemuda itu tak bawa apapun, ketika dingin mulai menusuk, hatiku
semakin perih. Terbesit dalam hatiku untuk kesekian kalinya berjuta rasa syukur
atas hidupku, dan rasa sesal karena telah kalah dengan mengeluh terus menerus
dan dengan menangis dengan alasan kekanak-kanakan.
Aku
menundukkan kepala karena rasa malu yang menghujamku, wahai pemuda terimakasih
untuk memberikanku pukulan keras yang mampu membangunkanku dan membangkitkan
kesadaranku beribu kali lipat.
Namun
maafkan aku yang kalah akan rasa takutku, sehingga aku tak merelakan takjilku.
Dihati kecilku ingin ku berikan, namun ragaku tak bergerak sedikitpun. Rasa
salahpun masih ada hingga sekarang, semoga meski kita mungkin tak akan bertemu
lagi namun ku tau doa ku akan terhubung denganmu, dan doaku semoga Allah
senantiasa disampingmu dan memberikan apapun yang kau butuhkan, seperti
kehidupan yang lebih layak dan pekerjaan yang lebih mumpuni dan terbebas dari
belenggu kemiskinan namun tetap selalu ada rasa syukur yang besar seperti saat
mata kita berpapasan.
Terimakasih^^
#megalava
Komentar
Posting Komentar