Revolusi Tiga Sekawan

sumber foto : google

Generasi muda suatu bangsa menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa di masa depan, juga bijak atau tidaknya mereka menggunakan teknologi dan aspek lainnya. Selain dilihat dari teknologi, cerminan tingkah laku dan kepedulian terhadap lingkunganpun menjadi tolak ukur apakah di masa depan bangsa tersebut akan memiliki alam yang terjaga ataupun tidak. Namun sayangnya generasi muda Indonesia sekarang banyak yang acuh tak acuh dengan hal tersebut.
Ditengah banyaknya remaja kini yang asyik menikmati teknologi yang semakin maju juga semakin apatisnya mereka terhadap lingkungan sekitar, bahkan hampir lupa dengan etika lingkungan yang mereka pelajari selama ini, yang mereka tau hanyalah teori tanpa mengaplikasikanya. Walaupun begitu tak semua remaja melakukan hal yang sama, salah satunya tiga sekawan ini, Putri, Oliv dan Lamia. Mereka menyempatkan waktu untuk berpikir dan berinovasi, salah satunya mereka berkarya dengan membuat penelitian tentang bahan ramah lingkungan, penelitian ini juga dalam rangka ikut sertanya mereka dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah (KTI) albacadabra2016 di boarding school Albayan.
 Penelitian mereka adalah membuat insektisida yang alami dari getah pohon pepaya, inspirasi ini muncul ketika mereka sedang berselancar di internet. Oliv yang pertama menggagasnya,
“pokoknya konsep awal ini Oliv yang punya” jawab Putri saat ditanyai di tempat penelitian (25/04).
Meskipun banyak kesulitan yang mereka lalui mereka tetap gigih untuk terus mencoba konsep yang mereka miliki. Berkat semangat pantang menyerah yang mereka miliki juga semangat akan berinovasi ramah lingkungan di masa depan, pada akhirnya percobaan mereka membuahkan hasil.
“Getah pohon pepaya ini diambil dari bagian batangnya, pembuatannya itu batang pepaya ditumbuk lalu dicampur dengan cuka lalu setelah itu disaring dan diambil airnya” lanjut Putri. Nah, air inilah yang dijadikan insektisida. Cara menggunakannya adalah dengan menyemprotkan cairan tersebut ke tanaman apa saja agar terbebas dari hama. Konsep dan caranya memang sangat sederhana namun manfaatnya sungguh luar biasa, karena dengan salah satu ide ini maka akan berkurangnya bahan kimia yang digunakan untuk pembasmi hama dan serangga yang sejatinya bahan kimia tersebut merusak unsur hara tanah juga harganya lebih ekonomis dibandingkan insektisida kimia.
Indonesia memiliki banyak sekali pohon pepaya, sehingga tidak sulit untuk membuatnya. Jadi, penemuan ini sangat efektif di terapkan di Indonesia, “harapannya ini berguna untuk masyarakat, apalagi petani. Harga produksi lebih ekonomis dibandingkan harus beli yang kimia, juga lebih ramah lingkungan tepatnya” Kata Putri saat ditanyai harapan tentang hasil penelitian mereka.
Tiga sekawan ini membuktikan bahwa remaja di era digital ini mampu memperhatikan lingkungan dan mampu membuat inovasi untuk mengurangi pencemaran dan membantu membuat lingkungan yang lebih baik di masa depan.
“lingkungan di masa depan itu ya harus lebih baik, Kita generasi muda Indonesia harus mampu menjaga dan melestarikan lingkungan sekitar juga menorehkan banyak inovasi yang ramah lingkungan untuk negeri kita” ujar Lamia saat di tanyai apa sih yang diharapkan dari generasi muda untuk lingkungan di masa depan?
Dengan adanya pembuktian yang mereka lakukan, juga menjadi cambuk dan motivasi bagi para remaja lainnya bahwa peran generasi muda untuk melestarikan lingkungan juga ada di pundak mereka, sehingga perlunya upaya dan rasa peduli mereka terhadap lingkungan agar lingkungan tetap lestari.
“semoga teman-teman yang lain dapat berinovasi juga kita revolusi lingkungan yang rusak jadi lebih baik ” ujar Lamia. Jadi, apa kalian sekarang lebih bersemangat untuk berkontribusi dalam melestarikan lingkungan? Semoga begitu ya… (inti)






Komentar

Postingan populer dari blog ini

Api dimataku

Kiprah Wayang Sukuraga

Gombal