Memoar dalam Insomnia

Ditengah temaran lampu
Aku terduduk diranjang kecil sederhana
bersandar pada bantal panjang empuk yang nyaman
suara jam yang terus berdetak menemani dipenghujung malamku

pukul satu pagi
aku masih terjaga
ternyata hari ini sudah menjadi kemarin
aku masih membuka mata
mataku tak tergoda untuk terlelap

pening kepalaku sudah mulai terasa
dingin sudah mulai meraba jari-jari kaki
namun mata tetap teguh ingin terbuka
perlukah aku minum secangkir kopi lagi?
agar esok kantukku tak datang
perlukah aku meminum cairan kafein itu?
agar esok mataku tetap terjaga

insomnia
meraba diriku
insomnia
datang seperti biasa

tak masalah aku tak terlelap malam ini
aku mampu bertahan
hanya
memoar lama terus terbayang
ditengah sunyinya malam
lagu-lagu kesedihan, tak henti berputar
puisi-puisi lama tentang pengharapan yang pupus, terus terngiang
cerita-cerita dulu tentang kebahagian yang telah usang, terus mengingatkan

aku tak tahan dengan itu
aku bukan si tangguh lagi pada keheningan
masa lalu selalu mampu membuatku terus terkoyak
memori lama selalu mampu membuat rasaku runtuh

insomnia ini tak apa
hanya
kumohon
tetaplah sunyi
semua memoar lama
tertutup rapat

ini bukanlah larik yang indah
apalagi puisi yang menyayat
bukan juga syair yang membekas
ini hanya
coretan nakal hati yang tengah terusik


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Api dimataku

Kiprah Wayang Sukuraga

Gombal